PASAINS
Pecinta Alam FMIPA Universitas Gadjah Mada
Menguak Budaya dan Mitos Gunung Lawu: Setitik Kisah yang Tak Pernah Pudar
By Weleh, PASAINS 18
Magetan, 27 Agustus 2017
Indonesia memiliki banyak ragam suku dan kebudayaan dimana didalamnya terdapat mitos-mitos yang beredar dimasyarakat luas yang meyebar dari mulut-kemulut. Kami tim pengembaran PASAINS FMIPA UGM, melakukan penelusuran terkait mitos dan kebudayaan masyarakat lereng Gunung Lawu di sekitar basecamp pendakian jalur cemoro sewu, Magetan, Jawa Timur. Gunung Lawu terletak di antara kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan kabupaten Magetan, Jawa Timur yang dimana dikenal dengan keindahan panorama alamnya. Namun, dibalik semua itu gunung yang termasuk salah satu gunung tertinggi di pulau jawa ini juga terkenal dengan aura mistisnya. Kami menemuni salah satu narasumber yang biasa dipanggil oleh masyarakat sekitar yaitu Mbah Wo, beliau merupakan kepala kebudayaan desa Sarangan yang bertempat tinggal di area wisata Telaga Sarangan.
Dalam wawancara ini kami membahas terkait mitos-mitos yang beredar dimasyarakat serta kebudayaan yang ada di Gunung Lawu dan sekitarnya. Sebuah pepatah jawa mengatakan, wong jawa ojo lali jawane, wong ndeso ojo lali adate yang artinya kebudayaan yang ada di sekitar kita harus selalu dilestarikan dan dijaga, karena itu adalah peninggalan dari nenek moyang kita sendiri masyarakat jawa yang pasti ada makna baiknya. Seperti acara Larung Sesaji Telaga Sarangan yang diadakan setahun sekali setiap tanggal satu ruah (kalender jawa) yang berpusat di Telaga Sarangan. Acara ini diadakan untuk mengungkapkan rasa syukur warga masyarakat Sarangan kepada Tuhan atas melimpahnya rejeki yang di dapatkan dalam satu tahun penuh.
Kumpulan foto-foto narasumber dan kondisi sekitar basecamp pendakian Gunung Lawu yang masih kental dengan mistisnya dengan ditemukannya banyak sesaji.
Gunung Lawu merupakan salah satu gunung di Indonesia yang mempunyai banyak mitos. Beberapa mitos Gunung Lawu yang kami dapatkan dari narasumber yang pertama yaitu orang Cepu tidak boleh naik gunung lawu tidak diketahui apa sebabnya, tetapi banyak kejadian aneh yang terjadi ketika orang Cepu mendaki Gunung Lawu, seperti sesaat sampai rumah orang tersebut meninggal dunia. Kedua saat mendaki Gunung Lawu tidak boleh mengeluh apapun seperti merasa lelah maupun dingin karena ini akan membuat kita semakin merasakan lelah dan dingin. Ketiga pendaki tidak boleh memakai baju warna hijau mitos ini berkaitan dengan sejarah Kerajaan Majapahit. Keempat di puncak Gunung Lawu terdapat sumber air yaitu Sendang Drajat, keajaibannya disekitar sendang tidak ada pepohonan, tetapi bisa muncul sumber air tersebut dan dipercaya air tersebut mempunyai kemiripan dengan air zam-zam yang ada di Arab. Kelima di sebelah Hargo Dumilah (salah satu puncak gunung lawu) terdapat pasar setan beberapa orang yang lewat merasakan seperti melihat aktivitas jual-beli pasar. Mitos-mitos tersebut sangat diyakini dan dipercayai oleh masyarakat sekitar, karena pda sejarahnya dahulu ada seorang utusan dari Kerajaan Majapahit yaitu Brawijaya V yang pergi ke puncak Gunung Lawu untuk bertapa, sehingga gunung ini sangat disakralkan dan banyak mistisnya.
Telaga sarangan yang terletak di lereng Gunung Lawu Magetan, Jawa Timur. Telaga sarangan adalah tempat wisata berupa telaga yang sejuk dan indah. Oleh karena itu, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang datang berwisata ke telaga ini. Oleh masyarakat sekitar telaga sarangan dijadikan objek wisata untuk dimanfaatkan sebagai mata pencaharian mereka dengan adanya fasilitas-fasilitas hiburan ,tempat penginapan dan juga tempat makan yang berada di sekitar telaga.Terbentuknya telaga sarangan ini terdapat asal-usul yang unik. Dahulu disebuah desa di lereng lawu hidup sepasang suami dan istri petani bernama Kyai Jalilung dan Nyai Jalilung. Setiap harinya Nyai Jalilung mengantarkan makanan untuk suaminya yang sedang bertani di sawah. Suatu hari selesai bertani Kyai Jalilung menunggu istrinya mengantarkan makanan di sawah. Namun, istrinya tak kunjung datang Ia pun memutuskan untuk mencari makanan sendiri. Ia medapatkan sebutir telur di dekat sebuah pancuran dan memakannya. Akan tetapi, setelah memakan setengah butir telur ia sudah merasa kenyang. Lalu istrinya datang membawa makanan, melihat sisa telur tersebut istrinya ikut memakan telur tersebut. Setelah beberapa saat sepasang suami istri tersebut merasa panas enceburkan diri ke pancuran air tersebut. Seketika mereka menjadi ular naga yang besar sehingga pancuran tersebut menjadi sebuah telaga yang besar yang bernama telaga sarangan. Sampai saat ini di dalam Telaga Sarangan di percaya terdapat dua ekor naga besar yang tinggal di dalamnya.
“Wong jowo ojo lali jawane, wong ndeso ojo lali adate”
— pepatah jawa —
